LOKASI
DAN OBJEK PENELITIAN
Sesuai
dengan judul yang di kemukakan tentang aplikasi pendataan data barang ahass
motor, penelitian mengambil lokasi penelitian pada deler ahass motordi sarijadi
bandung. Alasan pemilihan lokasi tersebut dikarenakan dilihat dari pengunjung
deler yang banyak datang ke deller ahass motor untuk servis motor ataupun
melakukan pembelian sparepart motor.
2. METODE
PENELITIAN
Adapum
penyusunan penelitian ini menggunakan penelitian penjelasan yaitu penelitian
yang menyoroti hubungan kasual antara variable-variabel melalui pengujian
hipotesis .
Pendekatan
yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Prosesnya
diawali dengan menggunakan logika deduktif diturunkan hepotesis penelitian yang
disertai pengukuran dan operasiionalisasi konsep, kemudian generalisasi empiris
yang berdasarkan kepada statistic , sehingga dapat disimpulkan sebagai temuan
penelitian.
3. POPULASI
DAN SAMPLE
Populasi
merupakan keseluruhan subjek penelitian. Populasi dari penelitian ini adalah
keseluruhan konsumen , dimana responden yang diteliti merupakan pengunjung
deller ahass motor sarijadi dengan jumlah 500 konsumen . sedangkan sample
adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti , untuk mendapatkan sample
reprensif.
Untuk
menentukan jumlah sample yang diambil dalam penelitian ini, peneliti
menggunakan rumus slovin , rumus tersebut dituliskan sebagai berikut :
n= N/(1+N(E^2))
Dimana :
n = jumlah sample
N = jumlah populasi
E = tingkat kesalahan
Populasi (N) sebanyak 100 konsumen
yang telah mengunjugi dan servis motor taraf kesalahan (e) sebesar 10 % , maka
jumlah sample (n) adalah
n= 100/(1+100(〖0.10〗^2))=50 orang
Dengan demikian jumlah sample dalam
penelitian adalah sebanyak 50 orang konsumen yang telah mengunjungi dan men
servis motor di ahass motor sarijadi.
4. TEKNIK
PENGAMBILAN SAMPLE
Teknik
pengambilan sample dengan menggunakan sample bertujuan , sample bertujuan
dilakukan dengan cara mengambil subjek bukan didasarkan atas strata , random
atau daerah tetapi didasarkan atas dengan tujuan tertentu .
5. JENIS
DATA DAN SUMBER DATA
Dalam
suatu penelitian harus disebutkan dari mana data diperoleh sebagaimana yang
dinyatakan oleh arintuko. Didalam penelitian ini data yang digunakan dibagi
menjadi 2 bagian yaitu :
1. Data
primer
Data primer merupakan
sumber data penelitian yang diperoleh secara langsung dari sumber asli. Data
primer dalam penelitian ini diperoleh dari penyebaran kuisioner kepada
responden, dalam hal ini adalah keseluruhan konsumen pada ahass motor.
2. Data
sekunder
Data yang didapat bukan
berasal dari pengamatan langsung, melainkan data yang sudah diolah orang lain,
yang berupa dari dokumen –dokumen perusahaan, seperti jumlah laporan penjualan
6. TEKNIK
PENGUMPULAN DATA
Teknik
pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
a. Wawancara
Merupakan teknik
pengumpulan data yang digunakan peneliti untuk mendapatkan keterangan lisan
melalui berhadap-hadapan dan bertatap muka dengan orang yang dapat memberikan
keterangan kepada peneliti.
b. Daftar
pertanyaan
Merupakan teknik
pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberikan seperangkat pertanyaan
kepada responden untuk dijawab. Metode ini dilakukan dengan memberikan sejumlah
pertanyaan yang berkaitan dengan permasalahan penelitian kepada para konsumen
yang sedang melakukan servis dan pembelian sparepart motor.
c. Dokumentasi
Metode ini berkaitan
dengan objek dan subjek peneliti melalu pencatatan dokumen dokumen dan berkas
berkas dari pihak yang terkait denan penelitian.
7. SKALA
PENGUKURAN
Skala
pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini yaitu; skala likert. Menurut Amirullah
(2002:85), skala likert digunakan secara luas yang mengharuskan responden untuk
menunjukkan derajat setuju atau tidak setuju kepada setiap statemen yang
berkaitn dengan objek yang dinilai. Bentuk asal dari skala likert memiliki lima
katagori. Apabila di ranking maka susunannya akan dimulai dari sangat tidak
setuju (strongly disagree) sampai kepada sangat setuju (stronglyagree).
Lima
katagori penilaian dimana masing-masing pernyataan diberi skor 1-5:
a. Jawaban
sangat tidak setuju diberi skor 1
b. Jawaban
tidak setuju diberi skor 2
c. Jawaban
cukup setuju diberi skor 3
d. Jawaban
setuju diberi skor 4
e. Jawaban
sangat setuju diberi skor 5
8. DEFINISI
OPERASIONAL VARIABEL
Menurut
Nazir (2003:126) definisi operasional adalah suatu definisi yang diberikan
kepada suatu variabel atau konstrak dengan cara memberi arti, atau menspesifikasikan
kegiatan, ataupun memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur
konstrak atau variabel tersebut. Sesuai dengan perumusan masalah yang ada maka
dalam penelitian ini menggunakan dua variabel yaitu variabel bebas dan variabel
terikat:
A. Variabel
bebas
Varibel bebas merupakan
variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya
variabel terikat (Sugiyono, 2004:33). Adapun variabel bebas (X) dalam
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Kelompok
Acuan (X1)
Kelompok Acuan adalah
seorang individu atau sekolompok orang yang secara nyata yang mempengaruhi
perilaku, baik dari orang lain, teman maupun tetangga.
2. Keadaan
Ekonomi (X2)
Keadaan ekonomi seseorang
meliputin tabungan dan pendaptan yang dapat di belanjakan.
3. Motivasi
(X3)
Adalah kondisi yang
mendorong konsumen agar mampu mencapai tujuan motifnya. Merupakan suatu
dorongan kebutuhan dari dalam diri konsumen yang perlu di penuhi.
B. Variabel
terikat
Variabel terikat
merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya
variabel bebas (Sugiyono, 2004:33). Dalam penelitian ini variabel terikat
adalah keputusan pembelian konsumen (Y). Selanjutnya konsep, variabel serta
item-item ditunjukkan pada table berikut:
9. UJI
INSTRUMEN
Ketepatan
pengujian suatu hipotesis tentang hubungan variabel penelitian sangat
tergantung pada kualitas data yang dipakai dalam pengujian tersebut. Pengujian
hipotesis penelitian tidak akan mengenai sasarannya bila mana data yang dipakai
tidak reliabel dan tidak menggambarkan secara tepat konsep yang diukur. Oleh
karena itu perlu dilakukan uji validitas dan reliabilitas instrument.
10. UJI
VALIDITAS
Uji
validitas instrumen dilakukan memastikan seberapa baik suatu instrument
digunakan untuk mengukur konsep yang seharusnya diukur. Menurut Umar (2003:72)
validitas adalah istilah yang dipakai untuk menyatakan sejauh mana data yang
ditampung pada suatu kuesioner atau mengukur apa yang ingin diukur. Dimana
menurut Arikunto (2002:146) r hitung dapat ditentukan dengan rumus:
(R_(XY= (N∑▒〖XY-(∑▒〖X)(∑▒〖Y)〗〗〗)/((N∑▒〖X^2-(∑▒〖X))^2 〗〗)(N∑▒〖Y^2-(∑▒〖Y))^2 〗〗)) ) ̇
Dimana:r
= Nilai validitas atau koefisien korelasi
x
= Skor kuesioner atau item
y
= Skor total atau total variabel
n
= Banyaknya sampel
Untuk
menguji validitas konstruk, dilakukan dengan cara mengkorelasikan antara skor
butir pertanyaan dengan skor totalnya. Bila harga korelasi positif dan
r≥0,3 signifikan (p< 0,05), maka instrument
dinyatakan valid maka butir instrument tersebut dinyatakan valid atau memiliki
validitas konstruk yang baik (Sugiyono,2002:127).
Pengujian
reliabilitas dan validitas instrument dalam penelitian ini menggunakan bantuan
komputerisasi program software SPSS 11.5 for windows
11. UJI
RELIABILITAS
Menurut
Umar (2003:80). Reliabilitas adalah istilah yang dipakai untuk menunjukkan
sejauh mana suatu hasil pengukuran relativ konsisten apabila alat ukur kita
gunakan berulang kali.
Suatu
instrument adalah reliabel sebagai alat pengumpul data apabila memberikan hasil
ukuran yang sama terhadap suatu gejala pada waktu yang berlainan. Menurut
Singarimbun instrumen dikatakan reliabel, jika hasil perhitungan memiliki
koefisien keandalan (reliabilitas) sebesar α = 0,05 atau lebih. Untuk menguji reliabilitas,
menurut Arikunto (2006:196) dapat menggunakan rumus Alpha Cornbach sebagai
berikut:
Keterangan:
r11 = reliabilitas instrument
k = banyaknya butir pertanyaan atau
banyaknya soal
2.1
Metode Penulisan
Dalam penulisan
laporan proyek 1 ini penulis melakukan tahapan penelitian dengan teknik
pengumpulan data yang dilakukan untuk melengkapi data atau informasi.
Metode yang digunakan
sebagai berikut :
1)
Penelusuran melalui media internet
Dalam mengumpulkan informasi untuk
pembuatan laporan ini, penulis memanfaatkan media internet yang mecakup tentang
aplikasi yang akan digunakan.
2)
Studi Lapangan
Penulis langsung mengumpulkan data-data
yang diperlukan dari lapangan serta
mempelajari data-data tersebut.
3)
Studi Kepustakaan
Penulis memanfaatkan informasi yang
terdapat dari buku-buku dan jurnal yang berhubungan dengan judul penulisan ini.
4)
Metode pengembangan aplikasi
· Waterfall
Model pengembangan software
yang diperkenalkan oleh Winston Royce pada tahun 70-an ini merupakan model
klasik yang sederhana dengan aliran sistem yang linier — keluaran dari
tahap sebelumnya merupakan masukan untuk tahap berikutnya. Pengembangan dengan
model ini adalah hasil adaptasi dari pengembangan perangkat keras, karena pada
waktu itu belum terdapat metodologi pengembangan perangkat lunak yang lain.
Proses pengembangan yang sangat terstruktur ini membuat potensi kerugian akibat
kesalahan pada proses sebelumnya sangat besar dan acap kali mahal karena
membengkaknya biaya pengembangan ulang.
Gambar
2.1 metode waterfall
Metode Waterfall
adalah suatu proses pengembangan perangkat lunak berurutan, di mana kemajuan
dipandang sebagai terus mengalir ke bawah (seperti air terjun) melewati
fase-fase perencanaan, pemodelan, implementasi (konstruksi), dan pengujian.
Berikut adalah gambar pengembangan perangkat lunak berurutan/ linear (Pressman, Roger S. 2001):
1.
Tahapan Metode
Waterfall
Dalam pengembangannya metode
waterfall memiliki beberapa tahapan yang runtut: requirement (analisis
kebutuhan), design sistem (system design), Coding & Testing, Penerapan Program, pemeliharaan.
·
Requirement (analisis kebutuhan).
Dalam langakah ini merupakan
analisa terhadap kebutuhan sistem. Pengumpulan data dalam tahap ini bisa
melakukan sebuah penelitian, wawancara atau study literatur. Seseorang system analisis akan menggali informasi
sebanyak-banyaknya dari user sehingga akan tercipta sebuah sistem komputer yang
bisa melakukan tugas-tugas yang diinginkan oleh user tersebut. Tahapan ini akan menghasilkan dokumen user
requirement atau bisa dikatakan sebagai data yang berhubungan dengan keinginan user dalam pembuatan system. Dokumen inilah yang akan menjadi
acuan system analisis untuk
menterjemahkan kedalam bahasa pemrograman.
·
Design System (design sistem)
Proses design akan menterjemahkan
syarat kebutuhan kesebuah perancangan perangkat lunak yang dapat diperkirakan
sebelum dibuat coding. Proses ini
berfokus pada : struktur data, arsitektur perangkat lunak, representasi interface, dan detail
(algoritma) prosedural. Tahapan ini
akan menghasilkan dokumen yang disebut software
requirement. Dokumen inilah yang akan
digunakan programmer untuk melakukan
aktivitas pembuatan sistemnya.
·
Coding & Testing (penulisan sinkode program / implemention)
Coding merupakan
penerjemahan design dalam bahasa yang bisa dikenali oleh komputer.Dilakukan
oleh programmer yang akan meterjemahkan transaksi yang diminta oleh user.
Tahapan inilah yang merupakan tahapan secara nyata dalam mengerjakan suatu
sistem.Dalam artian penggunaan computer akan dimaksimalkan dalam tahapan ini.
Setelah pengkodean selesai maka akan dilakukan testing terhadap sistem yang
telah dibuat tadi. Tujuan testing adalah menemukan kesalahan-kesalahan terhadap
system tersebut dan kemudian bisa
diperbaiki.
·
Penerapan / Pengujian Program (Integration & Testing)
Tahapan ini bisa dikatakan final dalam
pembuatan sebuah sistem. Setelah melakukan analisa, design dan pengkodean
maka sistem yang sudah jadikan digunakan oleh user.
·
Pemeliharaan (Operation & Maintenance)
Perangkat lunak yang susah disampaikan kepada
pelanggan pasti akan mengalami perubahan. Perubahan tersebut bisa karena
mengalami kesalahan karena perangkat lunak harus menyesuaikan dengan lingkungan
(periperal atau system operasi baru) baru, atau karena pelanggan membutuhkan perkembangan
fungsional.
2.
Manfaat Metode
Waterfall
Keunggulan model pendekatan
pengembangan software dengan metode
waterfall adalah pencerminan kepraktisan rekayasa, yang membuat kualitas software tetap terjaga karena
pengembangannya yang terstruktur dan terawasi. Disisi lain model ini merupakan
jenis model yang bersifat dokumen lengkap, sehingga proses pemeliharaan dapat
dilakukan dengan mudah. Akan tetapi dikarenakan dokumentasi yang lengkap dan sangat
teknis, membuat pihak klien sulit membaca dokumen yang berujung pada sulitnya
komunikasi antar pengembang dan klien. Dokumentasi kode program yang lengkap
juga secara tak langsung menghapus ketergantungan pengembang terhadap pemrogram
yang keluar dari tim pengembang. Hal ini sangat menguntungkan bagi pihak
pengembang dikarenakan proses pengembangan perangkat lunak tetap dapat
dilanjutkan tanpa bergantung pada pemrogram tertentu.
3.
Kelemahan Metode
Waterfall
Kelemahan pengembangan software dengan metode waterfall yang utama adalah lambatnya
proses pengembangan perangkat lunak. Dikarenakan prosesnya yang satu persatu
dan tidak bisa diloncat-loncat menjadikan model klasik ini sangat memakan waktu
dalam pengembangannya. Disisi lain, pihak klien tidak dapat mencoba sistem
sebelum sistem benar-benar selesai pembuatannya. Kelemahan yang lain adalah
kinerja personil yang tidak optimal dan efisien karena terdapat proses menunggu
suatu tahapan selesai terlebih dahulu.
Secara keseluruhan model pendekatan
pengembangan software dengan metode waterfall cocok untuk pengembangan software / perangkat lunak dengan
tingkat resiko yang kecil, dan memiliki ukuran yang kecil serta waktu
pengembangan yang cukup panjang. Model ini tidak disarankan untuk ukuran perangkat
lunak yang besar dan tingkat resiko yang besar.
